
Mata Kuliah: Aqidah Dan Etika
Oleh: Kelompok 3
Iyusmidar Arif
Jufrina

STKIP BINA BANGSA GETSEMPENA BANDA
ACEH
JURUSAN BAHASA INGGRIS
TAHUN AJARAN 2014-2015
![]() |
KATA PENGANTAR
Puji syukur penulis
telah panjatkan atas kehadirat Allah SWT, sang Pencipta alam semesta, manusia,
dan kehidupan beserta seperangkat aturan-Nya, karena, berkat limpahan rahmat,
taufiq, hidayah serta inayah-Nya, sehingga penulis dapat menyelesaikan makalah dengan
tema “ Etika untuk diri sendiri ” yang sederhana ini
dapat terselesaikan tidak kurang dari pada waktunya.
Maksud dan tujuan
dari penulisan makalah ini tidaklah lain untuk memenuhi salah satu dari sekian
kewajiban mata kuliah, serta merupakan bentuk langsung tanggung jawab penulis
pada tugas yang diberikan.
Pada kesempatan ini,
penulis juga ingin menyampaikan ucapan terima kasih kepada Bapak Abdul
Hadi selaku dosen pembimbing serta semua pihak yang telah membantu penyelesaian
makalah ini baik secara langsung maupun tidak langsung.
Demikian pengantar
yang dapat penulis sampaikan dimana penulis pun sadar bahwasannya penulis
hanyalah seorang manusia yang tidak luput dari kesalahan dan kekurangan,
sedangkan kesempurnaan hanya milik Allah SWT sehingga dalam penulisan dan
penyusunannya masih jauh dari kata sempurna. Oleh karena itu, kritik dan
saran yang konstruktif akan senantiasa penulis nanti dalam upaya evaluasi diri.
Banda Aceh, Mei
2014
Penulis
|
DAFTAR ISI
KATA
PENGANTAR……………………………………………………………………i
DAFTAR
ISI……………………………………………………………………………ii
PEMBAHASAN………………………………………………………………………..1
1.
Pengertian Etika………………………………………………………………...1
A. Pengertian Akhlak Terhadap Diri Sendiri…………………………………1
B. Macam-macam akhlak terhadap diri sendiri……………………………...2
AKHLAK BERPAKAIAN……………………………………………………………2
AKHLAK PERGAULAN……………………………………………………………………………………9
Ø
Tata cara bergaul
dengan orang tua atau guru……………………………..7
Ø
Tata Cara Bergaul
dengan yang Lebih Tua………………………………..8
Ø Tata Cara Breagaul dengan
yang Lebih Muda…………………………...9
Ø Tata Cara Bergaul dengan Teman Sebaya…………………………………9
Ø Tata Cara Bergaul dengan Lawan Jenis…………………………………..10
Akhlak Menjaga Kebersihan Badan…………………………………………...10
a. Menjaga
kebersihan dirinya ………………………………………………10
b. Menjaga
makan minumnya ………………………………………………10
c. Tidak
mengabaikan latihan jasmaninya …………………………………..10
d. Rupa
diri …………………………..……………………………………...11
v
Berilmu
…………………………..……………………………………….11
v
Kreatif,
produktif, inovatif ……………………………………………….12
v
Bekerja
Keras…………………………..…………………………………12
Cara memperbaiki diri…………………………..………………………………13
Cara untuk memelihara akhlak
terhadap diri sendiri ………………………….14
PENUTUP…………………………..……………………………………………16
DAFTAR PUSTAKA
|
PEMBAHASAN
1.
Pengertian
Etika
Menurut para ahli maka etika tidak lain adalah aturan prilaku, adat kebiasaan manusia dalam
pergaulan antara sesamanya dan menegaskan mana yang benar dan mana yang buruk.
Perkataan etika atau lazim juga disebut etik,
berasal dari kata Yunani ETHOS yang
berarti norma-norma, nilai-nilai,
kaidah-kaidah dan ukuran-ukuran bagi tingkah laku manusia yang baik.
Orang Muslim meyakini bahwa kebahagiaannya di dunia
dan akhirat sangat ditentukan oleh sejauh mana pembinaan terhadap dirinya,
perbaikan, dan penyucian dirinya. Selain itu, ia meyakini bahwa kecelakaan
dirinya sangat ditentukan oleh sejauh mana kerusakan dirinya, pengotorannya,
dan kebrengsekannya. Itu semua karena dalil-dalil berikut,
Firman Allah Ta‘ala : قَدْ أَفْلَحَ مَنْ
زَكَّاهَا وَقَدْ خَابَ مَنْ دَسَّاهَا
“Sesungguhnya
beruntunglah orang yang menjiwa itu. Dan sesungguhnya merugilah orang yang
mengotorinya.” (Asy-Syams: 9-10).
Yang dimaksud dengan akhlak
terhadap diri sendiri adalah sikap seseorang terhadap diri pribadinya baik itu
jasmani sifatnya atau ruhani. Manusia dapat diperbaiki akhlaknya dengan
menghilangkan akhlak-akhlak tercela. Di sinilah terletak tujuan pokok agama,
yakni mengajarkan dan menawarkan sejumlah nilai moral atau akhlak mulia agar
mereka menjadi baik dan bahagia dengan melatih diri untuk melakukan hal yang
terbaik. Iman tidak akan sempurna kecuali dengan menghiasi diri dengan Akhlak.
iri, dengki, munafik, dan lain
sebagainya dapat membahayakan jiwa kita. Semua itu merupakan penyakit hati yang
harus kita hindari. Hati yang berpenyakit seperti iri, dengki, munafik, dan
lain sebagainya akan sulit sekali menerima kebenaran, karena hati tidak hanya
menjadi tempat kebenaran dan iman tetapi hati juga bisa berubah menjadi tempat
kejahatan dan kekufuran.
1. Macam penyakit hati yaitu:
a.
Dengki,
|
Orang
pendengki
adalah orang yang paling rugi. Ia tidak mendapatkan apapun dari
sifat buruknya itu. Bahkan pahala kebaikan yang dimilikinya akan terhapus.
Islam tidak membenarkan kedengkian. Rasulullah bersabda: "Abu Hurairah
r.a. meriwayatkan bahwa Rasulullah SAW bersabda, "hati-hatilah pada
kedengkian karena kedengkian menghapuskan kebajikan, seperti api yang melahap
minyak." (H.R. Abu Dawud)
b. Munafik,
Orang munafik adalah orang yang berpura-pura atau
ingkar. Apa yang mereka ucapkan tidak sama dengan apa yang ada di hati dan
tindakannya. Adapun tanda-tanda orang munafik ada tiga. Hal ini dijelaskan
dalam hadits, yaitu: Dari Abu hurairah r.a. Rasulullah berkata: " tanda-tanda orang
munafik ada tiga, jika ia berbicara ia berdusta, jika berjanji ia mengingkari,
dan jika diberi amanat ia berkhianat." (H.R. Bukhari, Muslim, Tirmidzi dan
an-Nisa'i).
1.
Akhlak
Berpakaian
Pakaian adalah salah satu alat pelindung fisik
manusia. Tentunya pakaian tak lepas dari kehidupan manusia. Semua kehidupan
manusia haruslah sesuai syari’at Islam, yang mana telah diatur oleh Al –
Qur’an. Maka dari itu, manusia haruslah berpakaian sesuai dengan yang telah
diatur oleh Allah SWT. Berpakaian sesuai dengan syari’at Islam, akan membuat
kita merasa itu adalah sebuah kewajiban untuk menjaganya agar tetap dengan
aturan yang ada.
1. Pengertian Akhlak Berpakaian
Pakaian adalah kebutuhan pokok bagi setiap orang sesuai dengan situasi dan kondisi dimana seorang berada. Pakaian termasuk salah satu kebutuhan yang tak bisa lepas dari kehidupan. Karena pakaian mempunyai manfaat yang sangat besar bagi kehidupan kita. Melindungi tubuh kita agar tidak mengalami dan mendapatkan bahaya dari luar. Dalam bahasa Arabg pakaian disebut dengan kata “Libaasun-tsiyaabun”. Dan salam kamus besar Bahasa Indonesia, pakaian diartikan sebagai barang apa yang biasa dipakaioleh seorang baik berupa jaket, celana, sarung, selendang, kerudung, jubah, surban dll.
Secara isltilah, pakaian adalah segala sesuatuyang dikenakan seseorang dalam berbagai ukuran dan modenya berupa (baju, celana, sarung, jubah, ataupun yang lain), yang disesuaikan dengan kebutuhan pemakainya untuk suatu tujuan yang bersifat khusus artinya pakaian yang digunakan lebih berorientasi pada nilai keindahan yang disesuaikan dengan situasi dan kondisi pemakaian.
|
2. Bentuk akhlak berpakaian
Didalam pandangan IslamDalam pandangan Islam, pakaian terbagi menjadi 2 bentuk pertama pakaian untuk menutupi aurat tubuh sebagai realisasi dari perintah Allah bagi wanita seluruh tubuhnya kecuali tangan dan wajah, dan bagi pria menutup aurat dibawah lutut dan diatas pusar.
Apabila berpakaian dalam tujuan menutup aurat dalam Islam, memiliki ketentuan – ketentuan yang jelas, baik dalam hal ukuran pakaian maupun jenis pakaian yang akan dipakai. Maka dari itu, sebagai muslim kita harus mengikuti aturan yang telah ditetapkan oleh Allah SWT.
Pakaian yang berfungsi sebagai perhiasan menyatakan identitas diri, sesuai dengan adat dan tradisi dalam berpakaian, yang menjadi kebutuhan untuk menjaga dan mengaktualisasi dirinya dalam perkembangan zaman. Setiap manusia berhak mengekspresikan dirinya lewat pakaian yang dipakainya, tetapi tidaklah sembarangan. Tetap harus mengikuti syari’at Islam.
Bagi wanita, aurat adalah seluruh bagian tubuh kecuali muka dan telapak tangan, yang lainnya haram untuk diperlihatkan kepada masyarakat umum. Kecuali bagi mahram atau maharimnya. Bagi suaminya, wanita tidak mempunyai batasan aurat.
Busana Muslimah haruslah mempunyai kriteria sebagai berikut:
1. Tidak jarang dan Ketat
2. Tidak menyerupai laki – laki
3. Tidak menyerupai busana khusus non-muslim
4. Pantas dan sederhana (Roli A. Rahman dan M. Khamzah, 2008:30)
|
Dalam Surat Al a’raf ayat 26 menjelaskan
bahwa Allah menurunkan pakaian yang baik untuk menutup aurat dan menghindarkan
Manusia dari zalim terhadap dirinya dan orang lain.yang artinya : “Wahai
anak cucu Adam! Sesungguhnya kami telah menyediakan pakaian untuk menutup
auratmu dan untuk perhiasan bagimu’tetapi pakaian takwa itulah yang lebih baik
demikianlah sebagai tanda-tanda Allah’mudah-mudahan ingat.”(al-A’raf: 26)
Di dalam Islam ada garis panduan tersendiri mengenai adab
berpakaian (untuk lelaki dan wanita) yaitu:
1) Menutup
aurat: aurat lelaki menurut ahli hukum ialah daripada pusat hingga ke
lutut. Aurat wanita pula ialah seluruh anggota badannya, kecuali wajah, tapak
tangan dan tapak kakinya. Rasulullah SAW bersabda bermaksud: "Paha
itu adalah aurat." (Bukhari)
2) Tidak
menampakkan tubuh: pakaian yang jarang sehingga menampakkan aurat tidak
memenuhi syarat menutup aurat. Pakaian jarang bukan saja menampak warna kulit,
malah boleh merangsang nafsu orang yang melihatnya.
3) Pakaian tidak ketat: tujuannya adalah
supaya tidak kelihatan bentuk tubuh badan.
4) Tidak menimbulkan riak
5) Lelaki, wanita berbeza: maksudnya
pakaian yang khusus untuk lelaki tidak boleh dipakai oleh wanita, begitu juga
sebaliknya.
6) Larangan pakai sutera: Islam
mengharamkan kaum lelaki memakai sutera. Rasulullah SAW bersabda bermaksud:
"Janganlah kamu memakai sutera, sesungguhnya orang yang memakainya di
dunia tidak dapat memakainya di akhirat." (Muttafaq 'alaih)
7) Melabuhkan pakaian: contohnya seperti
tudung yang seharusnya dipakai sesuai kehendak syarak iaitu bagi menutupi
kepala dan rambut, tengkuk atau leher dan juga dada
8) Memilih warna sesuai: contohnya
warna-warna lembut termasuk putih kerana ia nampak bersih dan warna ini sangat
disenangi dan sering menjadi pilihan Rasulullah SAW.
9) Larangan memakai emas: termasuk dalam
etika berpakaian di dalam Islam ialah barang-barang perhiasan emas seperti
rantai, cincin dan sebagainya.
10) Selepas beli
pakaian: apabila memakai pakaian baru dibeli, ucapkanlah seperti yang
diriwayatkan oleh Abu Daud dan At-Tarmizi yang bermaksud:
|
"Ya Allah, segala puji bagi-Mu,
Engkau yang memakainya kepadaku, aku memohon kebaikannya dan kebaikan apa-apa
yang dibuat baginya, aku mohon perlindungan kepada-Mu daripada kejahatannya dan
kejahatan apa-apa yang diperbuat untuknya. Demikian itu telah datang daripada
Rasulullah".
12) Berdoa: ketika
menanggalkan pakaian, lafaz- kanlah: "Pujian kepada Allah yang
mengurniakan pakaian ini untuk menutupi auratku dan dapat mengindahkan diri
dalam kehidupanku, dengan nama Allah yang tiada Tuhan melainkan Dia”.
Adapun menutup seluruh tubuh maka ini mencakup wajah dan kedua
telapak tangan. Ini ditunjukkan dalam surah An-Nur di atas dari beberapa sisi:
1. Allah
memerintahkan untuk kaum mukminin untuk menundukkan pandangan mereka dari yang
bukan mahram mereka. Dan menundukkan pandangan tidak akan sempurna kecuali jika
wanita tersebut berhijab dengan hijab yang sempurna menutupi seluruh tubuhnya.
Sementara tidak diragukan lagi bahwa menyingkap wajah merupakan sebab terbesar
untuk memandang ke arahnya.
2. Allah Ta’ala melarang untuk
memperlihatkan sedikitpun dari perhiasan luarnya kepada non mahram, kecuali
terlihat dalam keadaan terpaksa karena tidak bisa disembunyikan, semisal
pakaian terluarnya. Jika Allah Ta’ala melarang untuk memperlihatkan perhiasan
luar (selain tubuh), maka tentunya wajah dan telapak tangan yang merupakan
perhiasan yang melekat pada diri seorang wanita lebih wajib lagi untuk
disembunyikan.
3. Allah
Ta’ala memerintahkan untuk mengulurkan khimar mereka sampai ke dada-dada
mereka, sementara khimar adalah sesuatu yang digunakan wanita untuk menutup
kepalanya. Jika khimar diperintahkan untuk diulurkan sampai ke dada, maka
tentunya secara otomatis wajah tertutup oleh khimar tersebut.
Sementara hadits Abu Hurairah menjelaskan
tentang syarat-syarat hijab secara umum, yaitu:
1) Hijab tidak boleh tipis sehingga
menampakkan apa yang ada di baliknya.
2) Hijab tidak boleh ketat sehingga
membentuk lekukan tubuhnya.
3) Haramnya wanita berjalan dengan
berlenggok, karena itu merupakan bentuk menampakkan perhiasannya.
4) Wajibnya wanita menjaga
kehormatan dan rasa malu mereka.
|
5) Menutup
sebagian tubuh dan menampakkan sebagian tubuh yang lain sama saja dengan
telanjang.
4.Hikmah berpakaian Islami :
1) Seseorang yang berpakaian islami akan terjaga
kehormatannya. Akhwat2 yang memakai jilbab insyaAllah tidak akan diganggu oleh para
ikhwan usil (Al Ahzab:59).
2) Terjaga dari perilaku yang menyimpang. Kalau
di sekeliling kita masih banyak yang membuka aurat, maka kita harus pandai2
mengalihkan pandangan (Q.S. An Nur: 30).
3) Terhindar dari penyakit tertentu. Pakaian
takwa adalah pakaian yang menutupi tubuh. Artinya, secara otomatis kulit kita
akan terlindungi dari bahaya sinar ultraviolet yang bisa menyebabkan kanker
kulit.
4) Terhindar dari azab Allah.
Akhlak Pergaulan
Pengertian
Pergaulan
Pergaulan
adalah satu cara seseorang untuk bersosialisasi dengan lingkungannya. Bergaul
dengan orang lain menjadi satu kebutuhan yang sangat mendasar, bahkan bisa
dikatakan wajib bagi setiap manusia yang “masih hidup” di dunia ini. Sungguh
menjadi sesuatu yang aneh atau bahkan sangat langka, jika ada orang yang mampu
hidup sendiri. Karena memang begitulah fitrah manusia. Manusia membutuhkan
kehadiran orang lain dalam kehidupannya.
Etika Pergaulan Menurut
Islam
Seorang
mukmin dalam menjalankan kehidupannya tidak hanya menjalin hubungan dengan
Allah semata (habluuminallah), akan tetapi menjalin hubungan juga dengan
manusia (habluuminannas). Saling kasih sayang dan saling menghargai
haruslah diutamakan, supaya terjalin hubungan yang harmonis. Rasulullah ‘saw
bersabda: “Tidak” dikatakan beriman salah seorang di antaramu, sehingga kamu
menyayangi saudaramu, sebagaimana kamu - menyayangi dirimu sendini”. (HR.
Bukhari Miisllm)
.
Tiga kunci utama untuk mewujudkannya yaitu ta’aruf, tafahum, dan ta’awun.
Ta’aruf.
|
Begitulah, ternyata ta’aruf atau saling
mengenal menjadi suatu yang wajib ketika kita akan melangkah keluar untuk
bersosialisasi dengan orang lain. Dengan ta’aruf kita dapat membedakan sifat,
kesukuan, agama, kegemaran, karakter, dan semua ciri khas pada diri seseorang.
Tafahum.
Memahami,
merupakan langkah kedua yang harus kita lakukan ketika kita bergaul dengan
orang lain. Setelah kita mengenal seseorang pastikan kita tahu juga semua yang
ia sukai dan yang ia benci. Inilah bagian terpenting dalam pergaulan. Dengan
memahami kita dapat memilah dan memilih siapa yang harus menjadi teman bergaul
kita dan siapa yang harus kita jauhi, karena mungkin sifatnya jahat. Sebab,
agama kita akan sangat ditentukan oleh agama teman dekat kita.
Ta’awun.
Setelah
mengenal dan memahami, rasanya ada yang kurang jika belum tumbuh sikap ta’awun
(saling menolong). Karena inilah sesungguhnya yang akan menumbuhkan rasa cinta
pada diri seseorang kepada kita. Bahkan Islam sangat menganjurkan kepada
ummatnya untuk saling menolong dalam kebaikan dan takwa. Rasullullah SAW telah
mengatakan bahwa bukan termasuk umatnya orang yang tidak peduli dengan urusan
umat Islam yang lain.
A. Tata
cara bergaul dengan orang tua atau guru
Rasulullah
SAW diutus ke dunia ini untuk menyempurnakan akhlak yang mulia, sehingga setiap
manusia dapat hidup secara damai, tenteram, berdampingan, saling memahami,
menghormati, dan menghargai satu sama lain, baik kepada yang lebih tinggi, yang
lebih rendah, kepada sesama atau teman sebaya, kepada lawan jenis, dan
sebagainya.
Rasulullah
saw pernah bersabda:
اِنَّمَا بُعِثْتُ ِلاُتَمِّمَ مَكَارِمَ
اْلاَخْلاَقِ (رَوَاهُ اْلبُخَارِيْ وَمُسْلِم)
Artinya:
“Aku diutus (ke dunia)
hanya untuk menyempurnakan akhlak terpuji”. (HR. Bukhari Muslim)
Hal
pertama yang semestinya dilakukan setiap muslim dalam pergaulan sehari-hari
adalah memahami dan menerapkan etika atau tata cara bergaul dengan orang
tuanya. Adapun yang dimaksud dengan orang tua, dapat dipahami dalam tiga
bagian, yaitu:
1. Orangtua
kandung, yakni orang yang telah melahirkan dan mengurus serta membesarkan kita
(ibu bapak).
|
2. Orang tua yang telah
menikahkan anaknya dan menyerahkan anak yang telah diurus dan dibesarkannya
untuk diserahkan kepada seseorang yang menjadi pilihan anaknya dan disetujuinya.
Orang tua ini, lazim disebut dengan “mertua”.
3. Orang
tua yang telah mengajarkan suatu ilmu, sehingga kita mengerti, dan memahami
pengetahuan, mengenal Allah, dan memahami arti hidup, dialah “guru” kita.
Dalam
Al-Quran maupun hadits, dapat ditemukan banyak sekali keterangan yang
memerintahkan untuk berbuat baik kepada orangtua. Sekalipun demikian, Islam
tidak menyebutkan jenis-jenis perbuatan baik kepada kedua orangtua
secara rinci, sebab berbuat baik kepada kedua orang tua bukan merupakan perbuatan
yang dibatasi beberapa batasan dan rincian. Kewajiban berbuat baik kepada kedua
orangtua sangat bergantung pada situasi dan kondisi, kemampuan, keperluan,
perasaan manusiawi, dan adat istiadat setiap masyarakat.
Berbuat baik kepada kedua
orangtua dalam berbagai bentuknya, disebut dengan “biruul walidain”.
Sesungguhnya
Allah tidak akan penah meridai seseorang kecuali kita merendahkan diri kepada
keduanya disentai kelembutan dan kasih sayang. Allah Swt. berfirman dalam surat
Al-Isra ayat 24:
Artinya:
“Dan rendahkanlah dirimu
terhadap mereka berdua dengan penuh kesayangan dan ucapkanlah: "Wahai
Tuhanku, kasihilah mereka keduanya, sebagaimana mereka berdua Telah mendidik
Aku waktu kecil". (QS. A1-lsra: 24)
B. Tata
Cara Bergaul dengan yang Lebih Tua
Dalam
pergaulan sosial, kita dituntut untuk menjunjung tinggi hak dan kewajiban
masing-masing, termasuk dalam pergaulan dengan orang yang lebih tinggi atau
lebih tua dari kita. orang yang lebih tinggi dari kita, dapat dikategorikan
menjadi 3 (tiga) bagian. yaitu:
1. Orang
yang umurnya lebih tua atau sudah tua,
2. Orang
yang ilmu, wawasan, dan pemikirannya lebih tinggi, sekali pun bisa jadi umurnya
lebih muda, dan
3. Orang
yang harta dan kedudukannva lebih tinggi dan lebih banyak.
Hal
ini sesuai dengan salah satu hadis Rasulullah saw dalam riwayat Thabrani:
إِنَّ اللهَ تَعَالَى لاَيَنْظُرُ إِلَى
صُوَرِكُمْ وَلاَ إِلَى اَحْسَابِكُمْ وَلاَ اِلَى اَمْوَالِكُمْ وَلَكِنْ
يَنْظُرُ اِلَى قُلُوْبِكُمْ وَاَعْمَالِكُمْ (رواه الطبرانى)
Artinya:
“Sesungguhnya Allah Swt. tidak melihat
ruhmu, kedudukan, dan harta kekayaanmu, tetapi Allah melihat apa yang ada dalam
hatimu dan amal perbuatanmu”. (HR. Thabrani)
|
C. Tata
Cara Breagaul dengan yang Lebih Muda
Tidak
dapat dihindari, kita juga pasti berkomunikasi dan bergaul dengan orang yang
umur dan strata sosialnya lebih rendah dan kita. Kita sama sekali dilarang
untuk merendahkan dan meremehkannya.Kita diperintahkan untuk selalu berusaha
menyayangi orang yang umurnya lebih muda dari kita. Bahkan Rasulullah SAW menyatakan
dalam satu hadisnya bahwa bukan termasuk golongan umatku, mereka yang tidak
menyayangi yang lebih muda. Beliau bersabda:
لَيْسَ مِنَّا مَنْ لَمْ يَرْحَمْ صَغِيْرَنَا
وَلَمْ يَعْرِفْ حَقًّ كَبِيْرَناَ (رواه الطبرانى)
Artinya:
‘Bukan termasuk golongan
umatku, orang yang tidak menyayangi yang lebih kecil (lebih muda),
dan tidak memahami hak-hak orang yang lebih besar (tinggi / dewasa)”. (HR.
Thabrani)
D. Tata
Cara Bergaul dengan Teman Sebaya
Merupakan
suatu hal yang wajar dan diajarkan oleh Islam, jika manusia bergaul dengan
sesamanya sebaik mungkin, dilandasi ketulusan,
keikhlasan, kesabaran, dan hanya mencari keridaan Allah Swt.
Rasulullah
saw hersabda:
المُؤْمِنُ الًّذِيْ يُخَالِطُ النَّاسَ
وَيَصْبِرُ عَلَى اَذَاهُمْ خَيْرٌ مِنَ اْلمُؤْمِنَ الَّذِى لاَيُخَالِطُ
النَّاسَ وَيَصْبِرُ عَلَى اَذَاهُمْ (رواه الترميذي)
Artinya“Seorang
mukmin yang bergaul dengan sesama manusia serta bersabar (tahan uji)
atas segala gangguan, mereka lebih baik daripada orang mukmin yang tidak
bergaul dengan yang lainnya serta tidak tahan uji atas gangguan
mereka”. (HR. Tirmidi)
Bergaul
dengan sesama atau teman sebaya, baik dalam umur, pendidikan, pengalaman, dan
sebagainya, kadang-kadang tidak selalu berjalan mulus. Mungkin saja terjadi
hal-hal yang tidak diharapkan seperti terjadi salah pengertian (mis
understanding) atau bahkan ada teman yang zaim terhadap kita serta suka
membuat gara-gara dan masalah.
|
E. Tata
Cara Bergaul dengan Lawan Jenis
Allah
telah menciptakan segala sesuatu di dunia ini dengan sempurna, teratur, dan
berpasang-pasangan. Ada langit dan ada bumi, ada siang dan ada malam, ada dunia
ada akhirat, ada surga dan neraka, ada tua dan ada muda, ada laki-laki dan ada
perempuan.
Pergaulan
yang baik dengan lawan jenis. hendaklah tidak didasarkan pada nafsu (syahwat)
yang dapat menjerumuskan pada pergaulan bebas yang dilarang agama. Inilah yang
tidak dikehendaki dalam Islam. Islam sangat memperhatikan batasan-batasan yang
sangat jelas dala pergaulan antara laki-laki dengan perempuan.
. Allah
Swt. berfirman dalam surat Al-Isra ayat 32:Artinya: ‘jadi janganlah kamu
mendekati zina. Sesungguhnya zinaitu adalah suatu perbuatan yang keji dan suatu
jalan yang buruk”. (QS. Al-Isra: 32)
2.
Akhlak Menjaga Kebersihan Badan
a. Menjaga
kebersihan dirinya
Islam menjadikan
kebersihan sebagian dari Iman. Ia menekankan kebersihan secara menyeluruh
meliputi pakaian dan juga badan. Rasulullah memerintahkan sahabat-sahabatnya
supaya memakai pakaian yang bersih, baik, dan rapi terutamanya pada hari Jumat,
memakai wewangian.
b. Menjaga
makan minumnya
Bersederhanalah dalam
makan minum, berlebihan atau melampaui dilarang dalam Islam. Sebaiknya
sepertiga dari perut dikhaskan untuk makanan, sepertiga untuk minuman, dan
sepertiga untuk bernafas.
c. Tidak
mengabaikan latihan jasmaninya
Riyadhah atau latihan
jasmani amat penting dalam penjagaan kesehatan, walau bagaimanapun ia dilakukan
menurut etika yang ditetapkan oleh Islam tanpa mengabaikan hak-hak Allah, diri,
keluarga, masyarakat dan sebagainya. Dalam arti ia tidak mengabaikan kewajiban
sembahyang sesuai kemampuan diri, adat bermasyarakat dan lainnya.
d. Rupa
diri
|
Seorang
muslim mestilah mempunyai rupa diri yang baik. Islam tidak pernah mengizinkan
budaya tidak senonoh, compang-camping, kusut, dan lainnya. Islam adalah agama
yang mempunyai rupa diri dan tidak mengharamkan yang baik. Seseorang yang
menjadikan rupa diri sebagai alasan tindakannya sebagai zuhud dan tawaduk, ini
tidak dapat diterima karena Rasulullah yang bersifat zuhud dan tawaduk tidak
melakukan begitu. Islam tidak melarang umatnya menggunakan nikmat Allah
kepadanya asalkan tidak melampaui batas dan takabur.
v
Berilmu
a. Nilai positif
berilmu bagi diri sendiri:
1) Memperoleh
kepuasan batin
2) Dapat
mencapai taraf hidup yang lebih baik
3) Dapat
melaksanakan ajaran agama secara benar
4) Dapat
menambah keimanan kepada Allah SWT
5) Memperoleh
pahala di sisi Allah SWT
6) Terangkat
derajatnya
b. Nilai
positif berilmu bagi orang lain:
1) Memberi
jalan terang dalam memberi petunjuk, pengarahan, dan saran
2) Tempat
orang bertanya dalam mengatasi masalah
3) Dapat
membantu orang lain dalam menyelesaikan persoalannya
c. Membiasakan
bersikap berilmu:
1) Memiliki
semangat untuk menguasai ilmu tentang hal-hal yang belum diketahui
2) Rajin
mendatangi lembaga-lembaga ilmu untuk memperoleh tambahan ilmu
3) Rajin
mendatangi pengajian untuk memperoleh ilmu keagamaan
4) Cukup
ringan mengeluarkan biaya demi tercapainya suatu ilmu
5) Gemar
bergaul dengan orang yang berilmu untuk mendapatkan tambahan ilmu
v
Kerja
keras
|
a. Nilai positif
kerja keras:
1) Terpuji
dalam pandangan Allah SWT
2) Terpuji
dalam pandangan sesama manusia
3) Dapat
diharapkan mencapai hasil yang maksimal sehingga lebih semangat
4) Tercukupinya
kebutuhan hidup karena Allah memberikan rahmat untuk hambanya yang mau berusaha
5) Memperoleh
kepercayaan dari sesama manusia
b. Membiasakan
bersikap kerja keras:
1) Selalu
menyadari bahwa hasil dari jerih payahnya sendiri lebih terpuji dan mulia
daripada menerima pemberian orang lain
2) Islam
memuji sikap kerja keras dan mencela meminta-minta
3) Memiliki
semboyan tidak suka mempersulit orang lain
4) Menyadari
sepenuhnya bahwa memberi lebih mulia daripada meminta
v
Kreatif,
produktif, inovatif
a. Nilai
positif kreatif, produktif, inovatif:
1) Dapat
mengikuti perkembangan zaman
2) Memperoleh
hasil yang cukup banyak dari karyanya
3) Tercukupi
kebutuhan hidupnya
4) Memperoleh
kepuasan batin
5) Bertambah
banyaknya hubungan persaudaraan
b. Membiasakan
bersikap kreatif, produktif, inovatif:
1) Berusaha
untuk menciptakan lapangan kerja baru
2) Berusaha
mengembangkan kemampuan yang dimiliki
3) Mengutamakan
kualitas produk dengan harga yang
terjangkau di pasaran
4) Memperhatikan
perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi
|
5) Selalu
mengadakan evaluasi hasil usahanya
6) Memiliki
tekad bahwa besok harus lebih baik dari hari ini
1. Berakhlak terhadap
jasmani:
a. Jauh
dari penyakit karena sering menjaga kebersihan
b. Tubuh
menjadi sehat dan selalu bugar
c. Menjadikan
badan kuat dan tidak mudah lemah
2. Berakhlak
terhadap akalnya:
a. Memperoleh
banyak ilmu
b. Dapat
mengamalkan ilmu yang kita peroleh untuk orang lain
c. Membantu
orang lain
d. Mendapat
pahala dari Allah SWT
3. Berakhlak terhadap
jiwa:
a. Selalu
dalam lindungan Allah SWT
b. Jauh
dari perbuatan yang buruk
c. Selalu
ingat kepada Allah SWT.
Cara
Memperbaiki Diri
1.Taubat
Yang dimaksud dengan taubat di sini ialah melepaskan
diri dan semua dosa dan kemaksiatan, menyesali semua dosa-dosa masa lalunya.
dan bertekat tidak kembali kepada dosa di sisa-sisa umurnya. Itu semua karena
dalil-dalil berikut:
2.Muraqabah
Maksudnya, orang Muslim mengkondisikan dirinya merasa
diawasi Allah Ta ‘ala di setiap waktu kehidupan hingga akhir kehidupannya,
bahwa Allah Ta‘ala melihatnya, mengetahui rahasia-rahasianya, memperhatikan
semua amal perbuatannya, mengamatinya, dan mengamati apa saja yang dikerjakan
oleh semua jiwa.
|
3.Muhasabah (Evaluasi)
Karena orang Muslim siang-malam bekerja untuk
kebahagiaannya di akhirat, kemuliaan dari Allah Ta‘ala, keridhaan-Nya, dan
karena dunia adalah tempat beramal, maka ia harus melihat ibadah-ibadah wajib seperti
penglihatan pedagang kepada modal bisnisnya, ia melihat ibadah-ibadah sunnah
seperti penglihatan pedagang terhadap keuntungan bisnisnya, dan melihat
kemaksiatan dan dosa sebagai kerugian dalam dunia bisnis. Kemudian ia berduaan
dengan dirinya sesaat di akhir harinya guna mengadakan muhasabah (evaluasi)
terhadap dirinya atas amal perbuatannya sepanjang siang harinya.
4.Mujahadah (Perjuangan)
Orang Muslim mengetahui bahwa musuh besarnya ialah
hawa nafsu yang ada dalam dirinya, bahwa watak hawa nafsu adalah condong kepada
keburukan, lari dari kebaikan, dan memerintahkan kepada keburukan
Selain itu, watak hawa nafsu ialah senang
malas-malasan, santai, dan menganggur, serta larut dalam syahwat, kendati di
dalamnya terdapat kecelakaan dan kebinasaannya.Allah
Cara
untuk memelihara akhlak terhadap diri sendiri
a.
Sabar,yaitu perilaku seseorang terhadap
dirinya sendiri sebagai hasil dari pengendalian nafsu dan penerimaan
terhadap apa yang menimpanya. Sabar diungkapkan ketika melaksanakan perintah,
menjauhi larangan dan ketika ditimpa musibah.
b. Syukur, yaitu sikap berterima kasih atas
pemberian nikmat Allah yang tidak bisa terhitung banyaknya. Syukur diungkapkan
dalam bentuk ucapan dan perbuatan. Syukur dengan ucapan adalah memuji Allah
dengan bacaan alhamdulillah, sedangkan syukur dengan perbuatan dilakukan dengan
menggunakan dan memanfaatkan nikmat Allah sesuai dengan aturan-Nya.
b.
Tawaduk, yaitu rendah hati, selalu
menghargai siapa saja yang dihadapinya, orang tua, muda, kaya atau miskin.
Sikap tawaduk melahirkan ketenangan jiwa, menjauhkan dari sifat iri dan dengki
yang menyiksa diri sendiri dan tidak menyenangkan orang lain.
d. Shidiq, artinya benar atau jujur.
Seorang muslim dituntut selalu berada dalam keadaan benar lahir batin, yaitu
benar hati, benar perkataan, dan benar perbuatan.
|
e. Amanah artinya dapat dipercaya. Sifat
amanah memang lahir dari kekuatan iman. Semakin menipis keimanan seseorang,
semakin pudar pula sifat amanah pada dirinya. Antara keduanya terdapat ikatan
yang sangat erat sekali. Rasulullah SAW bersabda bahwa “ tidak (sempurna) iman
seseorang yang tidak amanah dan tidak (sempurna) agama orang yang tidak
menunaikan janji.” ( HR. Ahmad )
f. Istiqamah, yaitu sikap teguh dalam
mempertahankan keimanan dan keislaman meskipun menghadapi berbagai macam
tantangan dan godaan. Perintah supaya beristiqamah dinyatakan dalam Al-Quran
pada surat Al- Fushshilat ayat 6 yang artinya “ Katakanlah bahwasanya aku
hanyalah seorang manusia seperti kamu, diwahyukan kepadaku bahwasanya Tuhan
kamu adalah Tuhan Yang Maha Esa, maka istiqamahlah menuju kepada-Nya dan
mohonlah ampun kepada-Nya. Dan kecelakaan yang besarlah bagi orang-orang yang
mempersekutukan-Nya.”
g. Iffah, yaitu menjauhkan diri dari hal-hal
yang tidak baik dan memelihara kehormatan diri dari segala hal yang akan
merendahkan, merusak, dan menjatuhkannya. Nilai dan wibawa seseorang tidak
ditentukan oleh kekayaan dan jabatannya dan tidak pula ditentukan oleh bentuk
rupanya, tetapi ditentukan oleh kehormatan dirinya.
h. Pemaaf, yaitu sikap suka memberi maaf
terhadap kesalahan orang lain tanpa ada rasa benci dan keinginan untuk
membalas. Islam mengajarkan kita untuk dapat memaafkan kesalahan orang lain
tanpa harus menunggu permohonan maaf dari yang bersalah.
![]() |
PENUTUP
Dari pembahasan
tentang akhlak terhadap diri sendiri maka dapat disimpulkan bahwa:
Akhlak terhadap diri sendiri adalah sikap
seseorang terhadap diri pribadinya baik itu jasmani sifatnya atau ruhani.
Akhlak terhadap diri sendiri dapat dibedakan menjadi
tiga macam yaitu akhlak berpakaian, Akhlak Pergaulan dan Akhlak Menjaga
Kebersihan Badan.
Akhlak Berpakaian
1. Allah memerintahkan untuk
kaum mukminin untuk menundukkan pandangan mereka dari yang bukan mahram mereka.
Dan menundukkan pandangan tidak akan sempurna kecuali jika wanita tersebut
berhijab dengan hijab yang sempurna menutupi seluruh tubuhnya. Sementara tidak
diragukan lagi bahwa menyingkap wajah merupakan sebab terbesar untuk memandang
ke arahnya.
2. Allah Ta’ala melarang
untuk memperlihatkan sedikitpun dari perhiasan luarnya kepada non mahram,
kecuali terlihat dalam keadaan terpaksa karena tidak bisa disembunyikan,
semisal pakaian terluarnya. Jika Allah Ta’ala melarang untuk memperlihatkan
perhiasan luar (selain tubuh), maka tentunya wajah dan telapak tangan yang
merupakan perhiasan yang melekat pada diri seorang wanita lebih wajib lagi
untuk disembunyikan.
Akhlak Pergaulan.
A. Tata
cara bergaul dengan orang tua atau guru
B. Tata Cara Bergaul dengan yang Lebih
Tua
C. Tata Cara Breagaul dengan
yang Lebih Muda
D. Tata Cara Bergaul dengan Teman Sebaya
E. Tata Cara Bergaul dengan Lawan Jenis
Akhlak
Menjaga Kebersihan Badan
a. Menjaga
kebersihan dirinya
c. Tidak
mengabaikan latihan jasmaninya

|
v
Berilmu
v
Kreatif,
produktif, inovatif
v
Bekerja
Keras
1. Berakhlak terhadap
jasmani:
2. Berakhlak
terhadap akalnya:
3. Berakhlak terhadap
jiwa:
Cara
Memperbaiki Diri
1.Taubat
2.Muraqabah
3.Muhasabah (Evaluasi)
4.Mujahadah (Perjuangan)
![]() |
DAFTAR PUSTAKA
Hirasah Al-Fadhilah karya Asy-Syaikh Bakr Abu Zaid
Departemen Ilmiah Darul Wathan.Etika Seorang
Muslim.2008.Jakarta:Darul Haq
Prof. Dr. H. Abdurrahman, Asymuni, dkk. Pedoman Hidup Islami Warga
Muhammadiyah. 2000. Jakarta: Suara Muhammadiyah.
Humpunan Putusan Tarjih.Himpunan Putusan Tarjih Muhammadiyah
Cetakan III.
Yogyakarta:Pustaka “SM”
Yogyakarta:Pustaka “SM”
![]() |
Tidak ada komentar:
Posting Komentar