Jumat, 02 Januari 2015

Makalah Etika Untuk Diri Sendiri

Etika Untuk Diri Sendiri

Mata Kuliah: Aqidah Dan Etika
Oleh: Kelompok 3
Iyusmidar Arif
Jufrina



Description: E:\DOCUMENTS\256795_108769795880133_995761_o.jpg



STKIP BINA BANGSA GETSEMPENA BANDA ACEH
JURUSAN BAHASA INGGRIS
TAHUN AJARAN 2014-2015

KATA PENGANTAR



Puji syukur penulis telah panjatkan atas kehadirat Allah SWT, sang Pencipta alam semesta, manusia, dan kehidupan beserta seperangkat aturan-Nya, karena, berkat limpahan rahmat, taufiq, hidayah serta inayah-Nya, sehingga penulis dapat menyelesaikan makalah dengan tema “ Etika untuk diri sendiri ” yang sederhana ini dapat terselesaikan tidak kurang dari pada waktunya.
Maksud dan tujuan dari penulisan makalah ini tidaklah lain untuk memenuhi salah satu dari sekian kewajiban mata kuliah, serta merupakan bentuk langsung tanggung jawab penulis pada tugas yang diberikan.
Pada kesempatan ini, penulis juga ingin menyampaikan ucapan terima kasih kepada Bapak Abdul Hadi selaku dosen pembimbing serta semua pihak yang telah membantu penyelesaian makalah ini baik secara langsung maupun tidak langsung.
Demikian pengantar yang dapat penulis sampaikan dimana penulis pun sadar bahwasannya penulis hanyalah seorang manusia yang tidak luput dari kesalahan dan kekurangan, sedangkan kesempurnaan hanya milik Allah SWT sehingga dalam penulisan dan penyusunannya masih jauh dari kata sempurna. Oleh karena itu, kritik dan saran yang konstruktif akan senantiasa penulis nanti dalam upaya evaluasi diri.
                                                                                         




                                                                              Banda Aceh,  Mei 2014

Penulis
i
 

 


DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR……………………………………………………………………i
DAFTAR ISI……………………………………………………………………………ii
PEMBAHASAN………………………………………………………………………..1
1.      Pengertian Etika………………………………………………………………...1
A.     Pengertian Akhlak Terhadap Diri Sendiri…………………………………1
B.     Macam-macam akhlak terhadap diri sendiri……………………………...2
AKHLAK BERPAKAIAN……………………………………………………………2
AKHLAK PERGAULAN……………………………………………………………………………………9
Ø  Tata cara bergaul dengan orang tua atau guru……………………………..7
Ø  Tata Cara Bergaul dengan yang Lebih Tua………………………………..8
Ø  Tata Cara  Breagaul dengan yang  Lebih Muda…………………………...9
Ø  Tata Cara Bergaul dengan Teman Sebaya…………………………………9
Ø  Tata Cara Bergaul dengan Lawan Jenis…………………………………..10
Akhlak Menjaga Kebersihan Badan…………………………………………...10
a.    Menjaga kebersihan dirinya ………………………………………………10
b.    Menjaga makan minumnya ………………………………………………10
c.    Tidak mengabaikan latihan jasmaninya …………………………………..10
d.   Rupa diri …………………………..……………………………………...11
Bentuk-Bentuk Akhlak Terpuji Terhadap Diri Sendiri ………………………...11
v  Berilmu …………………………..……………………………………….11
v  Kreatif, produktif, inovatif ……………………………………………….12
v  Bekerja Keras…………………………..…………………………………12
 Manfaat Akhlak Terhadap Diri Sendiri ………………………………………..13
Cara memperbaiki diri…………………………..………………………………13
Cara untuk memelihara akhlak terhadap diri sendiri ………………………….14
PENUTUP…………………………..……………………………………………16
DAFTAR PUSTAKA















ii
 
 


PEMBAHASAN
1.        Pengertian Etika
Menurut para ahli maka etika tidak lain adalah aturan prilaku, adat kebiasaan manusia dalam pergaulan antara sesamanya dan menegaskan mana yang benar dan mana yang buruk. Perkataan etika atau lazim juga disebut etik, berasal dari kata Yunani ETHOS yang berarti norma-norma, nilai-nilai, kaidah-kaidah dan ukuran-ukuran bagi tingkah laku manusia yang baik.
Orang Muslim meyakini bahwa kebahagiaannya di dunia dan akhirat sangat ditentukan oleh sejauh mana pembinaan terhadap dirinya, perbaikan, dan penyucian dirinya. Selain itu, ia meyakini bahwa kecelakaan dirinya sangat ditentukan oleh sejauh mana kerusakan dirinya, pengotorannya, dan kebrengsekannya. Itu semua karena dalil-dalil berikut,
Firman Allah Ta‘ala :  قَدْ أَفْلَحَ مَنْ زَكَّاهَا وَقَدْ خَابَ مَنْ دَسَّاهَا
 “Sesungguhnya beruntunglah orang yang menjiwa itu. Dan sesungguhnya merugilah orang yang mengotorinya.” (Asy-Syams: 9-10).

Yang dimaksud dengan akhlak terhadap diri sendiri adalah sikap seseorang terhadap diri pribadinya baik itu jasmani sifatnya atau ruhani. Manusia dapat diperbaiki akhlaknya dengan menghilangkan akhlak-akhlak tercela. Di sinilah terletak tujuan pokok agama, yakni mengajarkan dan menawarkan sejumlah nilai moral atau akhlak mulia agar mereka menjadi baik dan bahagia dengan melatih diri untuk melakukan hal yang terbaik. Iman tidak akan sempurna kecuali dengan menghiasi diri dengan Akhlak.
iri, dengki, munafik, dan lain sebagainya dapat membahayakan jiwa kita. Semua itu merupakan penyakit hati yang harus kita hindari. Hati yang berpenyakit seperti iri, dengki, munafik, dan lain sebagainya akan sulit sekali menerima kebenaran, karena hati tidak hanya menjadi tempat kebenaran dan iman tetapi hati juga bisa berubah menjadi tempat kejahatan dan kekufuran.
1. Macam penyakit hati yaitu:
a. Dengki,
1
 
Orang pendengki adalah orang yang paling rugi. Ia tidak  mendapatkan apapun dari sifat buruknya itu. Bahkan pahala kebaikan yang dimilikinya akan terhapus. Islam tidak membenarkan kedengkian. Rasulullah bersabda: "Abu Hurairah r.a. meriwayatkan bahwa Rasulullah SAW bersabda, "hati-hatilah pada kedengkian karena kedengkian menghapuskan kebajikan, seperti api yang melahap minyak." (H.R. Abu Dawud)
b.  Munafik,
 Orang munafik adalah orang yang berpura-pura atau ingkar. Apa yang mereka ucapkan tidak sama dengan apa yang ada di hati dan tindakannya. Adapun tanda-tanda orang munafik ada tiga. Hal ini dijelaskan dalam hadits, yaitu: Dari Abu hurairah r.a. Rasulullah berkata: " tanda-tanda orang munafik ada tiga, jika ia berbicara ia berdusta, jika berjanji ia mengingkari, dan jika diberi amanat ia berkhianat." (H.R. Bukhari, Muslim, Tirmidzi dan an-Nisa'i).
1.      Akhlak Berpakaian

Pakaian adalah salah satu alat pelindung fisik manusia. Tentunya pakaian tak lepas dari kehidupan manusia. Semua kehidupan manusia haruslah sesuai syari’at Islam, yang mana telah diatur oleh Al – Qur’an. Maka dari itu, manusia haruslah berpakaian sesuai dengan yang telah diatur oleh Allah SWT. Berpakaian sesuai dengan syari’at Islam, akan membuat kita merasa itu adalah sebuah kewajiban untuk menjaganya agar tetap dengan aturan yang ada.

1. Pengertian Akhlak Berpakaian

Pakaian adalah kebutuhan pokok bagi setiap orang sesuai dengan situasi dan kondisi dimana seorang berada. Pakaian termasuk salah satu kebutuhan yang tak bisa lepas dari kehidupan. Karena pakaian mempunyai manfaat yang sangat besar bagi kehidupan kita. Melindungi tubuh kita agar tidak mengalami dan mendapatkan bahaya dari luar. Dalam bahasa Arabg pakaian disebut dengan kata “Libaasun-tsiyaabun”. Dan salam kamus besar Bahasa Indonesia, pakaian diartikan sebagai barang apa yang biasa dipakaioleh seorang baik berupa jaket, celana, sarung, selendang, kerudung, jubah, surban dll.
Secara isltilah, pakaian adalah segala sesuatuyang dikenakan seseorang dalam berbagai ukuran dan modenya berupa (baju, celana, sarung, jubah, ataupun yang lain), yang disesuaikan dengan kebutuhan pemakainya untuk suatu tujuan yang bersifat khusus artinya pakaian yang digunakan lebih berorientasi pada nilai keindahan yang disesuaikan dengan situasi dan kondisi pemakaian.
2
 
 



2. Bentuk akhlak berpakaian

Didalam pandangan IslamDalam pandangan Islam, pakaian terbagi menjadi 2 bentuk pertama pakaian untuk menutupi aurat tubuh sebagai realisasi dari perintah Allah bagi wanita seluruh tubuhnya kecuali tangan dan wajah, dan bagi pria menutup aurat dibawah lutut dan diatas pusar.

Apabila berpakaian dalam tujuan menutup aurat dalam Islam, memiliki ketentuan – ketentuan yang jelas, baik dalam hal ukuran pakaian maupun jenis pakaian yang akan dipakai. Maka dari itu, sebagai muslim kita harus mengikuti aturan yang telah ditetapkan oleh Allah SWT.

Pakaian yang berfungsi sebagai perhiasan menyatakan identitas diri, sesuai dengan adat dan tradisi dalam berpakaian, yang menjadi kebutuhan untuk menjaga dan mengaktualisasi dirinya dalam perkembangan zaman. Setiap manusia berhak mengekspresikan dirinya lewat pakaian yang dipakainya, tetapi tidaklah sembarangan. Tetap harus mengikuti syari’at Islam.

Bagi wanita, aurat adalah seluruh bagian tubuh kecuali muka dan telapak tangan, yang lainnya haram untuk diperlihatkan kepada masyarakat umum. Kecuali bagi mahram atau maharimnya. Bagi suaminya, wanita tidak mempunyai batasan aurat.
Busana Muslimah haruslah mempunyai kriteria sebagai berikut:
1. Tidak jarang dan Ketat

2. Tidak menyerupai laki – laki

3. Tidak menyerupai busana khusus non-muslim

4. Pantas dan sederhana (Roli A. Rahman dan M. Khamzah, 2008:30)

3
 
Dalam Surat Al a’raf ayat 26 menjelaskan bahwa Allah menurunkan pakaian yang baik untuk menutup aurat dan menghindarkan Manusia dari zalim terhadap dirinya dan orang lain.yang artinya : “Wahai anak cucu Adam! Sesungguhnya kami telah menyediakan pakaian untuk menutup auratmu dan untuk perhiasan bagimu’tetapi pakaian takwa itulah yang lebih baik demikianlah sebagai tanda-tanda Allah’mudah-mudahan ingat.”(al-A’raf: 26)
Di dalam Islam ada garis panduan tersendiri mengenai adab berpakaian (untuk lelaki dan wanita) yaitu:
    1)      Menutup aurat: aurat lelaki menurut ahli hukum ialah daripada pusat hingga ke lutut. Aurat wanita pula ialah seluruh anggota badannya, kecuali wajah, tapak tangan dan tapak kakinya. Rasulullah SAW bersabda bermaksud: "Paha itu adalah aurat." (Bukhari)
   2)      Tidak menampakkan tubuh: pakaian yang jarang sehingga menampakkan aurat tidak memenuhi syarat menutup aurat. Pakaian jarang bukan saja menampak warna kulit, malah boleh merangsang nafsu orang yang melihatnya.
    3)     Pakaian tidak ketat: tujuannya adalah supaya tidak kelihatan bentuk tubuh badan.
  4)     Tidak menimbulkan riak
   5)     Lelaki, wanita berbeza: maksudnya pakaian yang khusus untuk lelaki tidak boleh dipakai oleh wanita, begitu juga sebaliknya.
   6)     Larangan pakai sutera: Islam mengharamkan kaum lelaki memakai sutera. Rasulullah SAW bersabda bermaksud: "Janganlah kamu memakai sutera, sesungguhnya orang yang memakainya di dunia tidak dapat memakainya di akhirat." (Muttafaq 'alaih)
    7)     Melabuhkan pakaian: contohnya seperti tudung yang seharusnya dipakai sesuai kehendak syarak iaitu bagi menutupi kepala dan rambut, tengkuk atau leher dan juga dada
    8)     Memilih warna sesuai: contohnya warna-warna lembut termasuk putih kerana ia nampak bersih dan warna ini sangat disenangi dan sering menjadi pilihan Rasulullah SAW.    9)     Larangan memakai emas: termasuk dalam etika berpakaian di dalam Islam ialah barang-barang perhiasan emas seperti rantai, cincin dan sebagainya. 
10) Selepas beli pakaian: apabila memakai pakaian baru dibeli, ucapkanlah seperti yang diriwayatkan oleh Abu Daud dan At-Tarmizi yang bermaksud:
4
 
"Ya Allah, segala puji bagi-Mu, Engkau yang memakainya kepadaku, aku memohon kebaikannya dan kebaikan apa-apa yang dibuat baginya, aku mohon perlindungan kepada-Mu daripada kejahatannya dan kejahatan apa-apa yang diperbuat untuknya. Demikian itu telah datang daripada Rasulullah".
12) Berdoa: ketika menanggalkan pakaian, lafaz- kanlah: "Pujian kepada Allah yang mengurniakan pakaian ini untuk menutupi auratku dan dapat mengindahkan diri dalam kehidupanku, dengan nama Allah yang tiada Tuhan melainkan Dia”.
Adapun menutup seluruh tubuh maka ini mencakup wajah dan kedua telapak tangan. Ini ditunjukkan dalam surah An-Nur di atas dari beberapa sisi:
     1.      Allah memerintahkan untuk kaum mukminin untuk menundukkan pandangan mereka dari yang bukan mahram mereka. Dan menundukkan pandangan tidak akan sempurna kecuali jika wanita tersebut berhijab dengan hijab yang sempurna menutupi seluruh tubuhnya. Sementara tidak diragukan lagi bahwa menyingkap wajah merupakan sebab terbesar untuk memandang ke arahnya.
     2.       Allah Ta’ala melarang untuk memperlihatkan sedikitpun dari perhiasan luarnya kepada non mahram, kecuali terlihat dalam keadaan terpaksa karena tidak bisa disembunyikan, semisal pakaian terluarnya. Jika Allah Ta’ala melarang untuk memperlihatkan perhiasan luar (selain tubuh), maka tentunya wajah dan telapak tangan yang merupakan perhiasan yang melekat pada diri seorang wanita lebih wajib lagi untuk disembunyikan.
     3.      Allah Ta’ala memerintahkan untuk mengulurkan khimar mereka sampai ke dada-dada mereka, sementara khimar adalah sesuatu yang digunakan wanita untuk menutup kepalanya. Jika khimar diperintahkan untuk diulurkan sampai ke dada, maka tentunya secara otomatis wajah tertutup oleh khimar tersebut.
      Sementara hadits Abu Hurairah menjelaskan tentang syarat-syarat hijab secara umum, yaitu:
    1)   Hijab tidak boleh tipis sehingga menampakkan apa yang ada di baliknya.
    2)   Hijab tidak boleh ketat sehingga membentuk lekukan tubuhnya.
  3)   Haramnya wanita berjalan dengan berlenggok, karena itu merupakan bentuk menampakkan     perhiasannya.
    4)   Wajibnya wanita menjaga kehormatan dan rasa malu mereka.
5
 
    5)   Menutup sebagian tubuh dan menampakkan sebagian tubuh yang lain sama saja dengan telanjang.
      4.Hikmah berpakaian Islami :
1)   Seseorang yang berpakaian islami akan terjaga kehormatannya. Akhwat2 yang memakai jilbab insyaAllah tidak akan diganggu oleh para ikhwan usil (Al Ahzab:59).
2)   Terjaga dari perilaku yang menyimpang. Kalau di sekeliling kita masih banyak yang membuka aurat, maka kita harus pandai2 mengalihkan pandangan (Q.S. An Nur: 30).
3)   Terhindar dari penyakit tertentu. Pakaian takwa adalah pakaian yang menutupi tubuh. Artinya, secara otomatis kulit kita akan terlindungi dari bahaya sinar ultraviolet yang bisa menyebabkan kanker kulit.
4)   Terhindar dari azab Allah.
Akhlak Pergaulan
Pengertian Pergaulan
Pergaulan adalah satu cara seseorang untuk bersosialisasi dengan lingkungannya. Bergaul dengan orang lain menjadi satu kebutuhan yang sangat mendasar, bahkan bisa dikatakan wajib bagi setiap manusia yang “masih hidup” di dunia ini. Sungguh menjadi sesuatu yang aneh atau bahkan sangat langka, jika ada orang yang mampu hidup sendiri. Karena memang begitulah fitrah manusia. Manusia membutuhkan kehadiran orang lain dalam kehidupannya.

 Etika Pergaulan Menurut Islam

Seorang mukmin dalam menjalankan kehidupannya tidak hanya menjalin hubungan dengan Allah semata (habluuminallah), akan tetapi menjalin hubungan juga dengan manusia (habluuminannas). Saling kasih sayang dan saling menghargai haruslah diutamakan, supaya terjalin hubungan yang harmonis. Rasulullah ‘saw bersabda: “Tidak” dikatakan beriman salah seorang di antaramu, sehingga kamu menyayangi saudaramu, sebagaimana kamu - menyayangi dirimu sendini”. (HR. Bukhari Miisllm)
. Tiga kunci utama untuk mewujudkannya yaitu ta’aruf, tafahum, dan ta’awun.
  Ta’aruf.
6
 
Begitulah, ternyata ta’aruf atau saling mengenal menjadi suatu yang wajib ketika kita akan melangkah keluar untuk bersosialisasi dengan orang lain. Dengan ta’aruf kita dapat membedakan sifat, kesukuan, agama, kegemaran, karakter, dan semua ciri khas pada diri seseorang.
  Tafahum.
Memahami, merupakan langkah kedua yang harus kita lakukan ketika kita bergaul dengan orang lain. Setelah kita mengenal seseorang pastikan kita tahu juga semua yang ia sukai dan yang ia benci. Inilah bagian terpenting dalam pergaulan. Dengan memahami kita dapat memilah dan memilih siapa yang harus menjadi teman bergaul kita dan siapa yang harus kita jauhi, karena mungkin sifatnya jahat. Sebab, agama kita akan sangat ditentukan oleh agama teman dekat kita.
    Ta’awun.
Setelah mengenal dan memahami, rasanya ada yang kurang jika belum tumbuh sikap ta’awun (saling menolong). Karena inilah sesungguhnya yang akan menumbuhkan rasa cinta pada diri seseorang kepada kita. Bahkan Islam sangat menganjurkan kepada ummatnya untuk saling menolong dalam kebaikan dan takwa. Rasullullah SAW telah mengatakan bahwa bukan termasuk umatnya orang yang tidak peduli dengan urusan umat Islam yang lain.

A.      Tata cara bergaul dengan orang tua atau guru
Rasulullah SAW diutus ke dunia ini untuk menyempurnakan akhlak yang mulia, sehingga setiap manusia dapat hidup secara damai, tenteram, berdampingan, saling memahami, menghormati, dan menghargai satu sama lain, baik kepada yang lebih tinggi, yang lebih rendah, kepada sesama atau teman sebaya, kepada lawan jenis, dan sebagainya.
Rasulullah saw pernah bersabda:
اِنَّمَا بُعِثْتُ ِلاُتَمِّمَ مَكَارِمَ اْلاَخْلاَقِ (رَوَاهُ اْلبُخَارِيْ وَمُسْلِم)
Artinya:
Aku diutus (ke dunia) hanya untuk menyempurnakan akhlak terpuji”. (HR. Bukhari Muslim)
Hal pertama yang semestinya dilakukan setiap muslim dalam pergaulan sehari-hari adalah memahami dan menerapkan etika atau tata cara bergaul dengan orang tuanya. Adapun yang dimaksud dengan orang tua, dapat dipahami dalam tiga bagian, yaitu:
1.   Orangtua kandung, yakni orang yang telah melahirkan dan mengurus serta membesarkan kita (ibu bapak).
7
 
2.   Orang tua yang telah menikahkan anaknya dan menyerahkan anak yang telah diurus dan dibesarkannya untuk diserahkan kepada seseorang yang menjadi pilihan anaknya dan disetujuinya. Orang tua ini, lazim disebut dengan “mertua”.
3.   Orang tua yang telah mengajarkan suatu ilmu, sehingga kita mengerti, dan memahami pengetahuan, mengenal Allah, dan memahami arti hidup, dialah “guru” kita.
Dalam Al-Quran maupun hadits, dapat ditemukan banyak sekali keterangan yang memerintahkan untuk berbuat baik kepada orangtua. Sekalipun demikian, Islam tidak menyebutkan jenis-jenis perbuatan baik  kepada kedua orangtua secara rinci, sebab berbuat baik kepada kedua orang tua bukan merupakan perbuatan yang dibatasi beberapa batasan dan rincian. Kewajiban berbuat baik kepada kedua orangtua sangat bergantung pada situasi dan kondisi, kemampuan, keperluan, perasaan manusiawi, dan adat istiadat setiap masyarakat.
Berbuat baik kepada kedua orangtua dalam berbagai bentuknya, disebut dengan “biruul walidain”.
Sesungguhnya Allah tidak akan penah meridai seseorang kecuali kita merendahkan diri kepada keduanya disentai kelembutan dan kasih sayang. Allah Swt. berfirman dalam surat Al-Isra ayat 24:
Artinya:
Dan rendahkanlah dirimu terhadap mereka berdua dengan penuh kesayangan dan ucapkanlah: "Wahai Tuhanku, kasihilah mereka keduanya, sebagaimana mereka berdua Telah mendidik Aku waktu kecil". (QS. A1-lsra: 24)

B.  Tata Cara Bergaul dengan yang Lebih Tua
Dalam pergaulan sosial, kita dituntut untuk menjunjung tinggi hak dan kewajiban masing-masing, termasuk dalam pergaulan dengan orang yang lebih tinggi atau lebih tua dari kita. orang yang lebih tinggi dari kita, dapat dikategorikan menjadi 3 (tiga) bagian. yaitu:
1.   Orang yang umurnya lebih tua atau sudah tua,
2.   Orang yang ilmu, wawasan, dan pemikirannya lebih tinggi, sekali pun bisa jadi umurnya lebih muda, dan
3.   Orang yang harta dan kedudukannva lebih tinggi dan lebih banyak.
Hal ini sesuai dengan salah satu hadis Rasulullah saw dalam riwayat Thabrani:
إِنَّ اللهَ تَعَالَى لاَيَنْظُرُ إِلَى صُوَرِكُمْ وَلاَ إِلَى اَحْسَابِكُمْ وَلاَ اِلَى اَمْوَالِكُمْ وَلَكِنْ يَنْظُرُ اِلَى قُلُوْبِكُمْ وَاَعْمَالِكُمْ (رواه الطبرانى)
Artinya:
Sesungguhnya Allah Swt. tidak melihat ruhmu, kedudukan, dan harta kekayaanmu, tetapi Allah melihat apa yang ada dalam hatimu dan amal perbuatanmu”. (HR. Thabrani)
8
 
 


C.  Tata Cara  Breagaul dengan yang  Lebih Muda
Tidak dapat dihindari, kita juga pasti berkomunikasi dan bergaul dengan orang yang umur dan strata sosialnya lebih rendah dan kita. Kita sama sekali dilarang untuk merendahkan dan meremehkannya.Kita diperintahkan untuk selalu berusaha menyayangi orang yang umurnya lebih muda dari kita. Bahkan Rasulullah SAW menyatakan dalam satu hadisnya bahwa bukan termasuk golongan umatku, mereka yang tidak menyayangi yang lebih muda. Beliau bersabda:
لَيْسَ مِنَّا مَنْ لَمْ يَرْحَمْ صَغِيْرَنَا وَلَمْ يَعْرِفْ حَقًّ كَبِيْرَناَ (رواه الطبرانى)


Artinya:
Bukan termasuk golongan umatku, orang yang tidak  menyayangi yang lebih kecil (lebih muda), dan tidak memahami hak-hak orang yang lebih besar (tinggi / dewasa)”. (HR. Thabrani)

D.  Tata Cara Bergaul dengan Teman Sebaya
Merupakan suatu hal yang wajar dan diajarkan oleh Islam, jika manusia bergaul dengan sesamanya sebaik mungkin, dilandasi ketulusan, keikhlasan,  kesabaran, dan hanya mencari keridaan Allah Swt.
Rasulullah saw hersabda:
المُؤْمِنُ الًّذِيْ يُخَالِطُ النَّاسَ وَيَصْبِرُ عَلَى اَذَاهُمْ خَيْرٌ مِنَ اْلمُؤْمِنَ الَّذِى لاَيُخَالِطُ النَّاسَ وَيَصْبِرُ عَلَى اَذَاهُمْ (رواه الترميذي)
Artinya“Seorang mukmin  yang bergaul dengan sesama manusia serta bersabar (tahan uji) atas segala gangguan, mereka lebih baik daripada orang mukmin yang tidak bergaul  dengan yang lainnya serta tidak tahan uji atas gangguan mereka”. (HR. Tirmidi)
Bergaul dengan sesama atau teman sebaya, baik dalam umur, pendidikan, pengalaman, dan sebagainya, kadang-kadang tidak selalu berjalan mulus. Mungkin saja terjadi hal-hal yang tidak diharapkan seperti terjadi salah pengertian (mis understanding) atau bahkan ada teman yang zaim terhadap kita serta suka membuat gara-gara dan masalah.



9
 
 


E.  Tata Cara Bergaul dengan Lawan Jenis
Allah telah menciptakan segala sesuatu di dunia ini dengan sempurna, teratur, dan berpasang-pasangan. Ada langit dan ada bumi, ada siang dan ada malam, ada dunia ada akhirat, ada surga dan neraka, ada tua dan ada muda, ada laki-laki dan ada perempuan.
Pergaulan yang baik dengan lawan jenis. hendaklah tidak didasarkan pada nafsu (syahwat) yang dapat menjerumuskan pada pergaulan bebas yang dilarang agama. Inilah yang tidak dikehendaki dalam Islam. Islam sangat memperhatikan batasan-batasan yang sangat jelas dala pergaulan antara laki-laki dengan perempuan.
. Allah Swt. berfirman dalam surat Al-Isra ayat 32:Artinya: ‘jadi janganlah kamu mendekati zina. Sesungguhnya zinaitu adalah suatu perbuatan yang keji dan suatu jalan yang buruk”. (QS. Al-Isra: 32)
2.      Akhlak Menjaga Kebersihan Badan
a.    Menjaga kebersihan dirinya
Islam menjadikan kebersihan sebagian dari Iman. Ia menekankan kebersihan secara menyeluruh meliputi pakaian dan juga badan. Rasulullah memerintahkan sahabat-sahabatnya supaya memakai pakaian yang bersih, baik, dan rapi terutamanya pada hari Jumat, memakai wewangian.
b.    Menjaga makan minumnya
Bersederhanalah dalam makan minum, berlebihan atau melampaui dilarang dalam Islam. Sebaiknya sepertiga dari perut dikhaskan untuk makanan, sepertiga untuk minuman, dan sepertiga untuk bernafas.
c.    Tidak mengabaikan latihan jasmaninya
Riyadhah atau latihan jasmani amat penting dalam penjagaan kesehatan, walau bagaimanapun ia dilakukan menurut etika yang ditetapkan oleh Islam tanpa mengabaikan hak-hak Allah, diri, keluarga, masyarakat dan sebagainya. Dalam arti ia tidak mengabaikan kewajiban sembahyang sesuai kemampuan diri, adat bermasyarakat dan lainnya.
d.   Rupa diri
10
 
Seorang muslim mestilah mempunyai rupa diri yang baik. Islam tidak pernah mengizinkan budaya tidak senonoh, compang-camping, kusut, dan lainnya. Islam adalah agama yang mempunyai rupa diri dan tidak mengharamkan yang baik. Seseorang yang menjadikan rupa diri sebagai alasan tindakannya sebagai zuhud dan tawaduk, ini tidak dapat diterima karena Rasulullah yang bersifat zuhud dan tawaduk tidak melakukan begitu. Islam tidak melarang umatnya menggunakan nikmat Allah kepadanya asalkan tidak melampaui batas dan takabur.
v  Berilmu
a. Nilai positif berilmu bagi diri sendiri:
1)   Memperoleh kepuasan batin
2)   Dapat mencapai taraf hidup yang lebih baik
3)   Dapat melaksanakan ajaran agama secara benar
4)   Dapat menambah keimanan kepada Allah SWT
5)   Memperoleh pahala di sisi Allah SWT
6)   Terangkat derajatnya
b.    Nilai positif berilmu bagi orang lain:
1)   Memberi jalan terang dalam memberi petunjuk, pengarahan, dan saran
2)   Tempat orang bertanya dalam mengatasi masalah
3)   Dapat membantu orang lain dalam menyelesaikan persoalannya
c.    Membiasakan bersikap berilmu:
1)   Memiliki semangat untuk menguasai ilmu tentang hal-hal yang belum diketahui
2)   Rajin mendatangi lembaga-lembaga ilmu untuk memperoleh tambahan ilmu
3)   Rajin mendatangi pengajian untuk memperoleh ilmu keagamaan
4)   Cukup ringan mengeluarkan biaya demi tercapainya suatu ilmu
5)   Gemar bergaul dengan orang yang berilmu untuk mendapatkan tambahan ilmu
v  Kerja keras
11
 
a. Nilai positif kerja keras:
1)   Terpuji dalam pandangan Allah SWT
2)   Terpuji dalam pandangan sesama manusia
3)   Dapat diharapkan mencapai hasil yang maksimal sehingga lebih semangat
4)   Tercukupinya kebutuhan hidup karena Allah memberikan rahmat untuk hambanya yang mau berusaha
5)   Memperoleh kepercayaan dari sesama manusia
b.    Membiasakan bersikap kerja keras:
1)   Selalu menyadari bahwa hasil dari jerih payahnya sendiri lebih terpuji dan mulia daripada menerima pemberian orang lain
2)    Islam memuji sikap kerja keras dan mencela meminta-minta
3)   Memiliki semboyan tidak suka mempersulit orang lain
4)   Menyadari sepenuhnya bahwa memberi lebih mulia daripada meminta
v  Kreatif, produktif, inovatif
a.  Nilai positif kreatif, produktif, inovatif:
1)   Dapat mengikuti perkembangan zaman
2)   Memperoleh hasil yang cukup banyak dari karyanya
3)   Tercukupi kebutuhan hidupnya
4)   Memperoleh kepuasan batin
5)   Bertambah banyaknya hubungan persaudaraan
b.    Membiasakan bersikap kreatif, produktif, inovatif:
1)   Berusaha untuk menciptakan lapangan kerja baru
2)   Berusaha mengembangkan kemampuan yang dimiliki
3)   Mengutamakan kualitas produk dengan harga yang terjangkau di pasaran
4)   Memperhatikan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi
12
 
5)   Selalu mengadakan evaluasi hasil usahanya
6)   Memiliki tekad bahwa besok harus lebih baik dari hari ini
1. Berakhlak terhadap jasmani:
a.    Jauh dari penyakit karena sering menjaga kebersihan
b.    Tubuh menjadi sehat dan selalu bugar
c.    Menjadikan badan kuat dan tidak mudah lemah
2.  Berakhlak terhadap akalnya:
a.    Memperoleh banyak ilmu
b.    Dapat mengamalkan ilmu yang kita peroleh untuk orang lain
c.    Membantu orang lain
d.   Mendapat pahala dari Allah SWT
3. Berakhlak terhadap jiwa:
a.    Selalu dalam lindungan Allah SWT
b.     Jauh dari perbuatan yang buruk
c.    Selalu ingat kepada Allah SWT.
Cara Memperbaiki Diri
1.Taubat
Yang dimaksud dengan taubat di sini ialah melepaskan diri dan semua dosa dan kemaksiatan, menyesali semua dosa-dosa masa lalunya. dan bertekat tidak kembali kepada dosa di sisa-sisa umurnya. Itu semua karena dalil-dalil berikut:
2.Muraqabah
Maksudnya, orang Muslim mengkondisikan dirinya merasa diawasi Allah Ta ‘ala di setiap waktu kehidupan hingga akhir kehidupannya, bahwa Allah Ta‘ala melihatnya, mengetahui rahasia-rahasianya, memperhatikan semua amal perbuatannya, mengamatinya, dan mengamati apa saja yang dikerjakan oleh semua jiwa.
13
 
3.Muhasabah (Evaluasi)
Karena orang Muslim siang-malam bekerja untuk kebahagiaannya di akhirat, kemuliaan dari Allah Ta‘ala, keridhaan-Nya, dan karena dunia adalah tempat beramal, maka ia harus melihat ibadah-ibadah wajib seperti penglihatan pedagang kepada modal bisnisnya, ia melihat ibadah-ibadah sunnah seperti penglihatan pedagang terhadap keuntungan bisnisnya, dan melihat kemaksiatan dan dosa sebagai kerugian dalam dunia bisnis. Kemudian ia berduaan dengan dirinya sesaat di akhir harinya guna mengadakan muhasabah (evaluasi) terhadap dirinya atas amal perbuatannya sepanjang siang harinya.

4.Mujahadah (Perjuangan)
Orang Muslim mengetahui bahwa musuh besarnya ialah hawa nafsu yang ada dalam dirinya, bahwa watak hawa nafsu adalah condong kepada keburukan, lari dari kebaikan, dan memerintahkan kepada keburukan
Selain itu, watak hawa nafsu ialah senang malas-malasan, santai, dan menganggur, serta larut dalam syahwat, kendati di dalamnya terdapat kecelakaan dan kebinasaannya.Allah
Cara untuk memelihara akhlak terhadap diri sendiri
a.        Sabar,yaitu perilaku seseorang terhadap dirinya sendiri sebagai hasil  dari pengendalian nafsu dan penerimaan terhadap apa yang menimpanya. Sabar diungkapkan ketika melaksanakan perintah, menjauhi larangan dan ketika ditimpa musibah.
b.    Syukur, yaitu sikap berterima kasih atas pemberian nikmat Allah yang tidak bisa terhitung banyaknya. Syukur diungkapkan dalam bentuk ucapan dan perbuatan. Syukur dengan ucapan adalah memuji Allah dengan bacaan alhamdulillah, sedangkan syukur dengan perbuatan dilakukan dengan menggunakan dan memanfaatkan nikmat Allah sesuai dengan aturan-Nya.
b.        Tawaduk, yaitu rendah hati, selalu menghargai siapa saja yang dihadapinya, orang tua, muda, kaya atau miskin. Sikap tawaduk melahirkan ketenangan jiwa, menjauhkan dari sifat iri dan dengki yang menyiksa diri sendiri dan tidak menyenangkan orang lain.
d.   Shidiq, artinya benar atau jujur. Seorang muslim dituntut selalu berada dalam keadaan benar lahir batin, yaitu benar hati, benar perkataan, dan benar perbuatan.
14
 
e.    Amanah artinya dapat dipercaya. Sifat amanah memang lahir dari kekuatan iman. Semakin menipis keimanan seseorang, semakin pudar pula sifat amanah pada dirinya. Antara keduanya terdapat ikatan yang sangat erat sekali. Rasulullah SAW bersabda bahwa “ tidak (sempurna) iman seseorang yang tidak amanah dan tidak (sempurna) agama orang yang tidak menunaikan janji.” ( HR. Ahmad )
f.      Istiqamah, yaitu sikap teguh dalam mempertahankan keimanan dan keislaman meskipun menghadapi berbagai macam tantangan dan godaan. Perintah supaya beristiqamah dinyatakan dalam Al-Quran pada surat Al- Fushshilat ayat 6 yang artinya “ Katakanlah bahwasanya aku hanyalah seorang manusia seperti kamu, diwahyukan kepadaku bahwasanya Tuhan kamu adalah Tuhan Yang Maha Esa, maka istiqamahlah menuju kepada-Nya dan mohonlah ampun kepada-Nya. Dan kecelakaan yang besarlah bagi orang-orang yang mempersekutukan-Nya.”
g.    Iffah, yaitu menjauhkan diri dari hal-hal yang tidak baik dan memelihara kehormatan diri dari segala hal yang akan merendahkan, merusak, dan menjatuhkannya. Nilai dan wibawa seseorang tidak ditentukan oleh kekayaan dan jabatannya dan tidak pula ditentukan oleh bentuk rupanya, tetapi ditentukan oleh kehormatan dirinya.
h.    Pemaaf, yaitu sikap suka memberi maaf terhadap kesalahan orang lain tanpa ada rasa benci dan keinginan untuk membalas. Islam mengajarkan kita untuk dapat memaafkan kesalahan orang lain tanpa harus menunggu permohonan maaf dari yang bersalah.



Rounded Rectangle: 15

 


PENUTUP

     Dari pembahasan tentang akhlak terhadap diri sendiri maka dapat disimpulkan bahwa:
 Akhlak terhadap diri sendiri adalah sikap seseorang terhadap diri pribadinya baik itu jasmani sifatnya atau ruhani.

Akhlak terhadap diri sendiri dapat dibedakan menjadi tiga macam yaitu akhlak berpakaian, Akhlak Pergaulan dan Akhlak Menjaga Kebersihan Badan.
Akhlak Berpakaian
1.      Allah memerintahkan untuk kaum mukminin untuk menundukkan pandangan mereka dari yang bukan mahram mereka. Dan menundukkan pandangan tidak akan sempurna kecuali jika wanita tersebut berhijab dengan hijab yang sempurna menutupi seluruh tubuhnya. Sementara tidak diragukan lagi bahwa menyingkap wajah merupakan sebab terbesar untuk memandang ke arahnya.
2.       Allah Ta’ala melarang untuk memperlihatkan sedikitpun dari perhiasan luarnya kepada non mahram, kecuali terlihat dalam keadaan terpaksa karena tidak bisa disembunyikan, semisal pakaian terluarnya. Jika Allah Ta’ala melarang untuk memperlihatkan perhiasan luar (selain tubuh), maka tentunya wajah dan telapak tangan yang merupakan perhiasan yang melekat pada diri seorang wanita lebih wajib lagi untuk disembunyikan.
Akhlak Pergaulan.
A.      Tata cara bergaul dengan orang tua atau guru
B.  Tata Cara Bergaul dengan yang Lebih Tua
C.  Tata Cara  Breagaul dengan yang  Lebih Muda
D.  Tata Cara Bergaul dengan Teman Sebaya
E.  Tata Cara Bergaul dengan Lawan Jenis
Akhlak Menjaga Kebersihan Badan
a.    Menjaga kebersihan dirinya
c.    Tidak mengabaikan latihan jasmaninya
d.   Rupa diri
16
 
v  Berilmu
v  Kreatif, produktif, inovatif
v  Bekerja Keras
1. Berakhlak terhadap jasmani:
2.  Berakhlak terhadap akalnya:
3. Berakhlak terhadap jiwa:
Cara Memperbaiki Diri
1.Taubat
2.Muraqabah
3.Muhasabah (Evaluasi)
4.Mujahadah (Perjuangan)

 


DAFTAR PUSTAKA

Hirasah Al-Fadhilah karya Asy-Syaikh Bakr Abu Zaid
Departemen Ilmiah Darul Wathan.Etika Seorang Muslim.2008.Jakarta:Darul Haq
Prof. Dr. H. Abdurrahman, Asymuni, dkk. Pedoman Hidup Islami Warga Muhammadiyah. 2000. Jakarta: Suara Muhammadiyah.
Humpunan Putusan Tarjih.Himpunan Putusan Tarjih Muhammadiyah Cetakan III.
Yogyakarta:Pustaka “SM”


 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar